Medan, 05 Oktober 1988

Aku Mencintai Kalian Semua Karena Allah

..:: WELCOME TO MY BLOG ::..

Assalamu'alaikum ...!!!
Mudah-mudahan Blog yang sederhana ini berguna bagi kita semua,, InsyaAllah Barokah.


-=[ Dian Hapriyanto Nst ]=-


Home Base :
Makyung Cafe
Jl. Halat No. 44DE Medan (samping Indomaret)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tampilkan postingan dengan label Foot Ball History. Tampilkan semua postingan

Sejarah Hari Ini (7 Januari): Ballon D'Or Keempat Lionel Messi

Pada 7 Januari 2013 silam, La Pulga mengukuhkan diri sebagai peraih Ballon d'Or untuk keempat kali secara konsekutif.

Lionel Messi dianggap mengalami penurunan belakangan ini. Penampilannya tidak selincah dulu, legenda Manchester United Paul Scholes bahkan menilai La Pulga mengalami kejenuhan di Barcelona, setelah meraih sukses besar pada periode 2008 hingga 2012 di bawah asuhan Pep Guardiola.

Tapi terlepas dari apa yang dialami Messi saat ini, bukan berarti mengabaikan prestasi kapten timnas Argentina sebelumnya. Hari ini, tepat dua tahun silam, Messi menyabet Ballon d’Or keempat secara beruntun, prestasi yang tidak pernah diraih pemain mana pun sebelumnya.

Pemain bernomor punggung sepuluh menembus tiga besar finalis peraih trofi individu paling bergengsi bersama Cristiano Ronaldo dan Andres Iniesta menyusul penampilan gemilang di tahun sebelumnya. Meski hanya mampu mempersembahkan trofi Copa del Rey setelah menyabet lima gelar di tahun sebelumnya, termasuk La Liga dan Liga Champions, penampilan individu Messi masih menjadi sorotan.

Pada 2012, Messi memburu rekor gol yang tak terpecahkan selama 40 milik milik legenda Jerman Gerd Muller. Pada 1 Desember, Si Kutu mencetak brace kontra Athletic Bilbao, yang artinya dia hanya selisih satu dari 85 gol yang diukir Muller pada 1972 bersama Bayern Munich dan timnas Jerman. Lalu pada 9 Desember, sepasang gol kontra Real Betis tidak hanya membawa Messi melampaui rekor Muller, tapi juga memecahkan rekor Cesar Rodriguez sebagai pencetak gol liga terbanyak untuk Blaugrana.

Rasa lapar Messi terhadap gol tidak berhenti sampai di situ, karena di sisa tahun dia terus menjadi mimpi buruk bagi kiper lawan, sampai berakhir di 91 gol dalam satu tahun kalender ketika bertemu Real Valladolid.

Performa individunya ini menempatkan Messi di posisi teratas dalam pemungutan suara Ballon d'Or 2012 dengan 41,60 persen, unggul jauh dari Ronaldo di peringkat kedua (23,68 persen).

Messi pertama kali memenangkan penghargaan tersebut pada 2009, ketika gelar Ballon d’Or dan FIFA World Player of the Year belum dilebur, lalu mempertahankannya pada hingga 2013. Di era sebelumnya hanya ada tiga pemain yang mampu menyabet tiga Ballon d’Or, yakni Johan Cruyff (1971, 1973, 1974), Michel Platini (1983, 1984, 1985), and Marco van Basten (1988, 1989, 1992). 

Sumber: Goal.com

Baca Selengkapnya »»

Sejarah Hari Ini (6 Januari): Reuni Thierry Henry

Sang Raja kembali datang mengenakan seragam klub yang telah melambungkan namanya dua tahun yang lalu.

Dua tahun lalu, tepat hari ini, menjadi momen yang spesial bagi para loyalis The Gunners. Sang legenda yang mereka selalu elu-elukan, sang ikon yang selalu mereka bangga-banggakan, kembali ke London Utara.

King Henry! Begitu para pendamba Arsenal menyebut pahlawan mereka, Theirry Henry. Mantan kapten resmi kembali berseragam The Gunners dengan status pinjaman dari New York Red Bulls pada dua tahun lalu di bursa transfer musim dingin, bertepatan dengan berakhirnya musim di Major League Soccer atau Liga Utama Amerika Serikat.

Si penyerang haus gol ini diproyeksikan bermain bagi Si Gudang Peluru selama Januari dan Februari. Didatangkannya kembali Henry menyusul absennya Gervinho, yang harus menjalani tugas internasional di Piala Afrika.

"Ketika datang ke Arsenal, hati saya akan selalu berbicara," ujar Henry, yang mengaku hatinya tak pernah terpaut dengan klub yang telah membesarkan namanya itu.

Bila di periode pertamanya anak Prancis ini mengenakan seragam nomor 14, yang kini menjadi milik Theo Walcott, di fase kedua dia mengambil nomor 12.

Buat Henry, opsi merapat ke Arsenal adalah hal yang paling sulit ditolaknya. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Emirates, Henry enggan membangga diri dengan menganggap dirinya datang sebagai superstar.

"Saya selalu katakan saya tidak pernah kembali untuk bisa bermain di Erop, tapi ketika tim yang Anda cintai dan dukung meminta Anda kembali, maka sulit untuk katakan tidak," aku Henry kala itu.

"Saya datang ke sini bukan untuk menjadi pahlawan atau membuktikan apa pun. Saya di sini hanya untuk menolong."

Puncak supremasi karier Henry di Arsenal terjadi ketika dia mengantar klub meraih gelar juara edisi 2004 dengan status yang masyhur di jagat sepakbola Inggris: era "invincible Arsenal".

Sumber: Goal.com

Baca Selengkapnya »»

Sejarah Hari Ini (5 Januari): Nemanja Vidic Gabung Manchester United

Tepat di tanggal ini, manajer Sir Alex Ferguson melakukan pembelian cerdas dengan mengamankan jasa Vidic dari Spartak Moskwa.

Hari ini, 5 Januari sembilan tahun lalu, Manchester United melakukan pembelian cerdas dengan mengamankan jasa bek tangguh Serbia asal Spartak Moskwa, Nemanja Vidic. Yang bersangkutan menuntaskan transfernya ke Old Trafford tepat di tanggal ini setelah mendapatkan izin kerja dari kedutaan.

Adapun, kedatangan Vidic kala itu disambut gembira oleh Sir Alex Ferguson, manajer yang dengan jeli mampu melihat kualitas tersembunyi pada diri bek 25 tahun tersebut.

“Dia [Vidic] merupakan bek tengah yang cepat, agresif dan akan menjadi tambahan mengerikan untuk skuat ini,” ujar Ferguson kala itu. “Bek bagus memenangkan Anda segalanya. Pemain ini sangat natural dan atletis. Anda jelas membutuhkan bek bagus dan hal itu ada pada dirinya,” tutupnya.

Di awal kedatangannya, Vidic sukses mempersembahkan dua kemenangan beruntun saat mengatasi Blackburn Rovers 2-1 di ajang Piala Liga dan 3-0 di markas Wolverhampton Wanderers di Piala FA. Akan tetapi, debutnya di Liga Primer ternoda setelah kalah 4-3 dari Blackburn.

Di musim pertamanya menjejakkan kaki di Old Trafford, Vidic haya mampu mempersembahkan gelar Piala Liga, di mana timnya mempermak Wigan Athletic arahan Paul Jewell dengan skor telak 4-0 di partai puncak.

Setelah itu, sosok setinggi 190cm ini menjelma menjadi pilar keberhasilan United selama beberapa tahun dengan duetnya bersama Rio Ferdinand dan sukses memenangkan banyak gelar, di antaranya adalah lima trofi Liga Primer, tiga Piala Liga, lima Community Shield, satu Liga Champions dan satu Piala Dunia Antarklub.

Secara total, Vidic tampil di 300 laga untuk tim Setan Merah di semua kompetisi dengan mencetak 21 gol. Terlepas itu, ia dipercaya menyandang ban kapten sejak musim 2010/11.

Pada musim panas kemarin, pemain kelahiran Uzice ini pergi meninggalkan Theatre of Dreams setelah kontraknya tidak lagi diperpanjang dan memilih bergabung dengan Inter Milan di Serie A Italia.

Sumber : Goal.com

Baca Selengkapnya »»

Sejarah Hari Ini (4 Januari): Duel Seru Di Anfield

Dua puluh satu tahun lalu, terjadi duel seru di Anfield yang mempertemukan Liverpool dengan Manchester United. Epik!

Kalau fan Liverpool diminta untuk menyebutkan momen paling bersejarah klub kesayangannya, mungkin mayoritas akan menjawab momen Istanbul.

Saat itu, Liverpool tertinggal 3-0 dari Milan di paruh pertama final Liga Champions 2005, tapi mereka mampu menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Akhir dari drama tersebut berujung bahagia bagi Si Merah karena mereka menang lewat adu penalti.

Namun tahukah Anda, kalau kejadian nyaris serupa terjadi 21 tahun yang lalu? Lebih spesialnya lagi, drama kali itu terjadi di tengah-tengah laga kontra Manchester United, rival abadi Liverpool. Ya, tepat 21 tahun lalu, 4 Januari 1994.

Bermain di Anfield, Liverpool malah tertinggal lebih dulu di menit kesembilan. Steve Bruce menyambut umpan cantik Eric Cantona dengan kepalanya. Sontak, bola mengarah ke sudut gawang Bruce Grobbelaar tanpa sempat disentuh.

Ryan Giggs menggandakan keunggulan United 11 menit kemudian. Aksi individunya berhasil memperdaya Mark Wright dan winger Wales tersebut menyungkil bola melewati kepala Grobbelaar. Sang kiper kembali tertunduk, sementara Giggs merayakan gol indahnya.

Langit seolah runtuh bagi Liverpool saat Dennis Irwin memperlebar keunggulan lewat tendangan bebasnya. Sepakan Irwin yang begitu keras menyasar sudut atas gawang Grobbelaar dan sang kiper hanya ternganga takjub menyaksikan sepakan tersebut.

Ketinggalan tiga gol tentu bukanlah suatu hal yang mudah dikejar. Namun justru karena inilah drama menjadi menarik.

Nigel Clough mencetak dua gol dalam laga bersejarah ini.

Nigel Clough mengawali serangan balik Liverpool tak lama kemudian. Bola muntah bergulir jauh dari kotak penalti, tapi Clough melepas sepakan spekulatif dari jarak tersebut. Siapa sangka, bola mengarah ke mistar dalam gawang dan memantul mengoyak jala tanpa sempat ditepis oleh kiper legendaris Peter Schmeichel.

Menjelang jeda, Clough kembali beraksi. Umpan Ian Rush gagal diantisipasi dengan sempurna oleh Roy Keane dan bola liar bergulir di dekat kotak penalti. Clough berlari dari belakang dan langsung melepas sepakan mendatar ke gawang Schmeichel. Sekali lagi, sang kiper legendaris tak berdaya dan skor 3-2 menjadi hasil akhir paruh pertama.

Laga berlanjut sengit dan keras di paruh kedua. Baik Liverpool maupun United mencatatkan banyak peluang, namun performa apik kedua kiper berhasil menggagalkan setiap peluang.

Momen penting bagi Liverpool baru terjadi 10 menit jelang bubaran. Stig Inge Bjørnebye yang baru masuk menggantikan Steve McManaman langsung memberikan dampak positif. Umpan silangnya mengarah tepat ke kotak penalti dan Neil Ruddock menanduknya dengan keras tanpa sempat dihalau Schmeichel.

Tak ada gol lagi di sisa waktu dan hasil akhir 3-3 harus diterima kedua belah pihak. Adapun, laga keras, enerjik, dan menegangkan ini menjadi salah satu duel terbaik antara Liverpool dan Manchester United. Saat-saat di mana legenda klub masih rajin menggocek si kulit bundar di lapangan hijau.

Baca Selengkapnya »»

Sejarah Hari Ini (3 Januari): Ketika Milan Tundukkan Napoli

Pada hari ini lebih dari dua dekade lalu, Milan menunjukkan dominasinya atas Napoli.

Milan menunjukkan dominasinya atas Napoli pada hari ini lebih dari dua dekade silam. Tepatnya pada 3 Januari 1988, Milan menundukkan Napoli dengan skor 4-1.

Napoli bertandang di San Siro dalam lanjutan Serie A Italia giornata ke-13. Diperkuat Diego Maradona, Napoli bertandang ke markas Milan dengan status juara bertahan.

Bahkan Napoli bisa mencuri keunggulan saat pertandingan baru berjalan. Diego Maradona memberikan umpan kepada Careca untuk dituntaskan melalui tendangan lob melewati kiper Milan.

Tapi gol tersebut kemudian memicu serangan frontal ke pertahanan Napoli. Beberapa kesempatan tercipta, dan akhirnya Milan bisa balik memimpin sebelum turun minum.

Gol dari Virdis dan Ruud Gullit menjadi penentu sukses Milan mengubah kedudukan menjadi 2-1 di 45 menit pertama. Virdis tendangan dari jarak dekat setelah sempat mengelabuhi dua pemain belakang dan kiper Napoli. Sementara Gullit melesakkan bola dengan cara yang kurang lebih sama.

Di paruh kedua, tekanan bertubi-tubi berujung gol ketiga dan keempat. Gullit melesakkan gol keduanya lewat tendangan dar dalam penalti, sementara Ancelotti melesakkan bola ke gawang lewat tendangan keras dari luar kotak penalti.

Sumber: Goal.com

Baca Selengkapnya »»

Sejarah Hari Ini (2 Januari): Daniel Sturridge Merapat Ke Anfield

Salah satu pembelian tersukses Liverpool terjadi dua tahun lalu, yakni kedatangan Daniel Sturridge dari Chelsea.

Transfer musim dingin selalu menyita perhatian. Ia digelar di tengah musim dan klub yang melakukan aktivitas pasti berniat melakukan perubahan nyata dalam skuatnya. Tak jarang, pembelian di musim dingin selalu berujung pada kesia-siaan.

Namun dua tahun lalu, yang terjadi justru kemungkinan yang terbaik dari transfer musim dingin. Liverpool meresmikan kepindahan Daniel Sturridge dari Chelsea dengan tebusan yang dirahasiakan, sebuah pembelian yang pasti takkan disesali.

Sturridge mengawali karirnya di Manchester City sebelum pindah ke Stamford Bridge pada 2009. Sang penyerang hanya mencatatkan satu penampilan di Liga Primer Inggris bersama Chelsea pada musim 2013/14 karena masalah cedera. Akhirnya, ia memilih untuk pindah ke Anfield.

Setelah kepindahannya diresmikan, ia mengungkapkan kegirangan pada konferensi pers. “Saya senang berada di sini. Saya datang kemari bukan hanya untuk bermain selama beberapa tahun lalu pindah. Saya datang kemari untuk bermain selama mungkin.”

“Ini adalah klub yang besar menurut saya, salah satu yang terbesar di dunia. Untuk memiliki fan dan pemain kelas dunia sangatlah luar biasa.”

“Apapun yang diinginkan manajer, saya akan melakukannya dan bekerja sekeras mungkin bagi klub dan para fan. Saya mencoba untuk menempatkan senyum pada wajah para fan dan menghadirkan kesuksesan pada klub – ini pasti luar biasa.”


Brendan Rodgers yang berhasil mendatangkan Sturridge ke Merseyside pun tak mau kalah. Ia ikut menyampaikan sukacitanya dalam bentuk pujian pada sang penyerang. “Daniel bisa mencetak gol, ia punya kecepatan dan kekuatan. Ia juga lapar dan apa yang kami butuhkan di Liverpool adalah pemain yang lapar akan kesuksesan.”

“Ia menyadari, ini mungkin jadi peluang di klub besar dan ia harus produktif. Saya menantikan saat-saat untuk bekerja sama dengannya.”

Kehadiran Sturridge di Liverpool memberikan angin segar. Ia langsung mencetak 11 gol di setengah musim pertamanya dan menjadi sosok penting dalam perebutan gelar The Reds di musim lalu, di mana ia mencetak total 21 gol di Liga Primer. Total, Sturridge telah mencetak 36 gol bersama laskar Anfield.

Sumber: Goal.com

Baca Selengkapnya »»

Sejarah Hari Ini (1 Januari): Tottenham Hotspur Bungkam Old Trafford Sekali Lagi

Tepat setahun yang lalu, Manchester United kembali terkapar di kandang sendiri oleh lawan yang sama untuk kedua kalinya secara beruntun. 

Bagi sebagian besar pendukung Manchester United, mengenang musim lalu adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Bagaimana tidak? Setelah ditinggal Sir Alex Ferguson, United bak anak ayam kehilangan induk di bawah besutan manajer anyar David Moyes. Seketika juga, Setan Merah sudah tidak seseram seperti sedia kala.

Namun, ada satu peninggalan buruk Ferguson yang belum bisa dihapus Moyes, yakni United mengulangi kekalahan kandang dari Tottenham Hotspur. Momen ini terjadi saat Tahun Baru 2014 atau tepat setahun yang lalu.

Sebelumnya, pada September 2012 di Old Trafford, United juga takluk 3-2 untuk menandai kemenangan perdana Spurs di Theatre of Dreams dalam 23 tahun terakhir. Dan momen tersebut terulang kembali pada musim depan ketika Moyes mengambil alih kursi Fergie.

Kala itu, United seperti sudah keluar dari krisis yang mereka dapat di awal musim dan perlahan merangkak naik ke urutan enam klasemen usai menyapu bersih empat laga sebelumnya. Namun, di saat mereka berupaya membuka jalan kembali ke zona Liga Champions, Tottenham yang tengah dalam kondisi pesakitan mampu menghadangnya.

Seperti diketahui, Desember 2013 menjadi momen kelam bagi Spurs tatkala Andre Villas-Boas dipecat selepas kekalahan 5-0 dari Liverpool dan digantikan manajer anyar Tim Sherwood. Betul saja, tim tamu terlihat tak sanggup mengatasi dominasi United di Old Trafford sejak kick-off.

Namun, sekitar sepuluh menit menjelang jeda, Spurs melakukan serangan balik berbahaya. Dari sayap kanan, Christian Eriksen mengirim umpan silang ke kotak penalti dan Emmanuel Adebayor langsung menanduknya. Chris Smalling kalah berduel di sini, sementara David De Gea tak berkutik. 1-0 Spurs memimpin hingga turun minum.

Di babak kedua, pola permainan tak banyak berubah karena United terus menguasai bola. Namun, lagi-lagi serangan balik mematikan Spurs menjadi pembeda. Di menit 66, dimulailah conter attack dahsyat itu ketika Roberto Soldado membebaskan Aaron Lennon di sayap. Winger lincah ini langsung mengirimkan crossing mendatar yang sedikit berbelok setelah membentur Nemanja Vidic. Beruntung, bola mengarah ke jalur lari Eriksen yang langsung menanduk bola untuk menaklukkan De Gea. 2-0!

United yang tersentak dengan gol ini langsung bangkit semenit kemudian memanfaatkan kelengahan lini belakang Tottenham. Umpan terobosan Adnan Januzaj disambut baik oleh Danny Welbeck yang berlari dan lantas mengirim sontekan ke jala Spurs. Hingga akhir laga, skor 2-1 untuk tim tamu tidak berubah.

Tottenham sekali lagi berhasil membungkam Old Trafford untuk menghadirkan kekalahan kandang keempat United di musim itu sekaligus menghadirkan Tahun Baru nan pilu untuk pasukan Moyes.

Sumber: Goal.com

Baca Selengkapnya »»