Medan, 05 Oktober 1988

Aku Mencintai Kalian Semua Karena Allah

..:: WELCOME TO MY BLOG ::..

Assalamu'alaikum ...!!!
Mudah-mudahan Blog yang sederhana ini berguna bagi kita semua,, InsyaAllah Barokah.


-=[ Dian Hapriyanto Nst ]=-


Home Base :
Makyung Cafe
Jl. Halat No. 44DE Medan (samping Indomaret)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tampilkan postingan dengan label Fisika Instrumentasi. Tampilkan semua postingan

Menggunakan Port Serial AT89S51 (II)

(Lanjutan)

Berikut salah satu contoh program list penggunaan port serial AT89S51:
Org 0000h
Inisialisasi:
mov scon, #01010000b
mov a, pcon
setb acc.7
mov pcon, a
mov tmod, #20h
mov th1, #-3
setb tr1
Main:
acall RecCh

acall SendCh
sjmp Main
RecCh:
Jnb ri, $
Clr ri
Mov a, sbuf
Ret
SendCh:
Mov a, sbuf
Jnb ti, $
Clr ti
Ret

Program di atas akan menampilkan karakter keyboard yang kita tekan ke monitor. Catatan: dalam menggunakan program di atas, program “Hyperterminal” di windows harus diaktifkan. Selamat Mencoba…

Baca Selengkapnya »»

Menggunakan Port Serial AT89S51 (I)

Selain pengiriman data dengan metode parallel, Mikrokontroler AT89S51 juga mendukung metode pengiriman dan pembacaan data secara serial. Pada metode ini, data 8-bit yang hendak dikirimkan akan diurai dan dikirimkan bertahap bit demi bit. Pengiriman dan penerimaan data serial dilakukan melalui fasilitas register SBUF (Serial Buffer) pada mikokontroler AT89S51. Untuk mengirimkan data, SBUF perlu ditulis melalui accumulator. Sedangkan untuk menerima data serial, data pada SBUF perlu dibaca oleh accumulator. Pin mikrokontroler AT89S51 yang berfungsi untuk fasilitas serial adalah P3.0 (RXD) pin ke 10 dan P3.1 (TXD) pin ke 11.

Komunikasi AT89S51 dengan PC.


Agar dapat berkomunikasi dengan PC (Personal computer) maka diperlukan tambahan IC RS-232 yang bertindak untuk mengkonversi tegangan kerja mikrokontroler sehingga memiliki level yang sama dengan PC. Rangkaian yang dapat digunakan mikrokontroler untuk berkomunikasi dengan PC dapat dilihat pada gambar berikut.
 
Gambar - Rangkaian Komunikasi AT89S51 dengan PC.

Baca Selengkapnya »»

Hukum Ohm

Hukum Ohm menyatakan bahwa arus yang melalui konduktor antara dua titik berbanding lurus dengan beda potensial atau tegangan di dua titik, dan berbanding terbalik dengan resistansi antara mereka.

Persamaan matematika yang menggambarkan hubungan ini adalah:

I = V/R
 
Gambar 1. Analogi Hukum Ohm pada rangkaian elektronika.

Dimana I adalah arus yang melalui konduktor dalam satuan ampere, V adalah beda potensial di konduktor diukur dalam satuan volt, dan R adalah resistansi konduktor dalam satuan ohm. Lebih khusus lagi, hukum Ohm menyatakan bahwa R dalam relasi ini adalah konstan, tidak bergantung kepada arus (I).

Hukum Ohm diberi nama berdasarkan penemunya, fisikawan Jerman Georg Ohm, yang dalam sebuah risalah yang diterbitkan pada tahun 1827, menggambarkan pengukuran diterapkan sirkuit tegangan dan arus yang melalui listrik sederhana yang berisi berbagai panjang kawat. Ia menyajikan suatu persamaan sedikit lebih kompleks dari yang di atas untuk menjelaskan hasil eksperimennya. Persamaan di atas adalah bentuk modern dari hukum Ohm.

Daftar Acuan:
http://en.wikipedia.org/wiki/Ohm%27s_law
http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Ohm

Baca Selengkapnya »»

ADC (Analog to Digital Converter)

ADC = Analog to Digital Converter adalah suatu perangkat yang mengubah suatu data kontinu terhadap waktu (analog) menjadi suatu data diskrit terhadap waktu (digital).
Proses yang terjadi dalam ADC adalah:

  1. Pen-cuplik-an
  2. Peng-kuantisasi-an
  3. Peng-kode-an
  1. Pen-cuplik-an adalah proses mengambil suatu nilai pasti (diskrit) dalam suatu data kontinu dalam satu titik waktu tertentu dengan periode yang tetap. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada ilustrasi gambar berikut:
 
Semakin besar frekuensi pen-cuplik-an, berarti semakin banyak data diskrit yang didapatkan, maka semakin cepat ADC tersebut memproses suatu data analog menjadi data digital.
  1. Peng-kuantisasi-an adalah proses pengelompokan data diskrit yang didapatkan pada proses pertama ke dalam kelompok-kelompok data. Kuantisasi, dalam matematika dan pemrosesan sinyal digital, adalah proses pemetaan nilai input seperti nilai pembulatan.
 
Semakin banyak kelompok-kelompok dalam proses kuantisasi, berarti semakin kecil selisih data diskrit yang didapatkan dari data analog, maka semakin teliti ADC tersebut memproses suatu data analog menjadi data digital.
  1. Peng-kode-an adalah meng-kode-kan data hasil kuantisasi ke dalam bentuk digital (0/1) atau dalam suatu nilai biner.
 
Dengan: X1 = 11, X2 = 11, X3 = 10, X4 = 01, X5 = 01, X6 = 10.

Secara matematis, proses ADC dapat dinyatakan dalam persamaan:

Data ADC = (Vin/Vref) x Maksimal Data Digital

 Dengan Vref adalah jenjang tiap kelompok dalam proses kuantisasi,kemudian  maksimal data digital berkaitan proses ke-3 (peng-kode-an). Sedangkan proses ke-1 adalah seberapa cepat data ADC dihasilkan dalam satu kali proses.

 Contoh kasus:

1. Suatu rangkaian ADC dengan IC 0804 diberikan input tegangan analog sebesar 3 volt. Tegangan referensi IC di-set di 5 volt. Berapakah data digital output dari IC?

Jawaban:
IC 0804 adalah IC ADC dengan output 8 bit data digital. Maka maksimal data digital-nya adalah 28 – 1 = 255 (pengurangan 1 dilakukan karena data dimulai dari 0-255 yang berarti berjumlah 256). Sehingga data digital output IC adalah:

Data ADC = (Vin/Vref)  x Maksimal Data Digital
Data ADC = (3/5)  x 255
Data digital output IC = 153 = 10011001

2. Suatu rangkaian mikrokontroler AVR ATmega16 membaca data digital di salah satu pin ADC-nya adalah 0111110100. Dengan diketahui bahwa pin AREF-nya dihubungkan ke tegangan sumber 5 volt, berapakah tegangan input pada pin ADC-nya tersebut?

Jawaban:
IC mikrokontroler AVR ATmeg16 adalah mikrokontroler yang terdapat rangkaian ADC internal di dalam IC-nya. ADC internal dari ATmega16 memiliki ketelitian sampai dengan 10 bit, sehingga maksimal data digital-nya adalah 210 – 1 = 1023. Pin AREF pada mikrokontroler ini adalah salah satu opsi tegangan referensi ADC-nya. Sehingga tegangan input dapat dihitung dengan cara:

Data digital output = 0111110100(2) = 500(10)
Data ADC = (Vin/Vref) x Maksimal Data Digital
500 = (Vin/5) x 1023
Vin = (500 x 5 / 1023) = 2,44 Volt

3. Suatu rangkaian mikrokontroler AVR ATmega16 terhubung kepada sensor suhu LM35. Dalam proses pembacaan data pada pin ADC-nya, data yang terbaca adalah 300(10). Berapakah suhu yang terdeteksi oleh LM35 jika pin AREF pada mikrokontroler diset di tegangan 1 volt?

Jawaban:
Langkah pertama dalam menyelesaikan kasus-3 adalah menentukan tegangan input di pin ADC yang adalah tegangan keluaran dari LM35 dengan cara seperti pada penyelesaian kasus-2:

Data ADC = (Vin/Vref) x Maksimal Data Digital
300 = (Vin/1) x 1023
Vin = (300 x 1 / 1023) = 0,2933 Volt

Langkah berikutnya adalah menentukan suhu yang dideteksi oleh LM35. Untuk melakukan itu perlu diperhatikan sensitivitas dari LM35. Dari datasheet-nya, LM35 memiliki sensitivitas  10 mV/oC. Sehingga suhu yang terdeteksi oleh LM35 (T):

T = (Vin/Sensitivitas) = (0,2933/0,01) = 29,33 oC

Baca Selengkapnya »»

Hukum Kirchhoff

Hukum ini juga disebut hukum pertama Kirchhoff, aturan titik Kirchhoff, aturan persimpangan Kirchhoff (atau aturan nodal), dan aturan pertama Kirchhoff.
Prinsip kekekalan muatan listrik menyiratkan bahwa:
  • Pada setiap titik-persimpangan dalam sebuah sirkuit listrik, jumlah arus yang mengalir ke titik-persimpangan sama dengan jumlah arus yang mengalir keluar dari titik tersebut,
  • atau jumlah besar arus dalam tiap titik pertemuan jaringan konduktor adalah nol.
Arus yang memasuki titik-persimpangan adalah sama dengan arus yang meninggalkan titik-persimpangan itu: i1 + i4 = i2 +i3
Hukum ini didasarkan pada kekekalan muatan, dimana muatan (dalam coulomb) adalah produk dari arus (dalam ampere) dan waktu (dalam detik).

Hukum Tegangan Kirchhoff (KVL)

Hukum ini juga disebut hukum kedua Kirchhoff, loop Kirchhoff (atau mesh) aturan, dan aturan kedua Kirchhoff.
Prinsip kekekalan energi menyiratkan bahwa:
  • Jumlah beda potensial listrik (volt) dalam satu arah  di sekitar setiap sirkuit tertutup adalah nol.
  • atau jumlah besar tegangan (volt) dari produk resistensi-konduktor dan arusnya dalam sebuah loop tertutup sama dengan ggl total yang tersedia di loop tersebut.
Jumlah dari semua tegangan sekitar loop adalah sama dengan nol: v1 + v2 + v3 – v4 = 0.
Hukum ini berlaku bahkan ketika resistensi (yang menyebabkan disipasi energi) hadir dalam sebuah rangkaian. Validitas hukum ini dapat dipahami jika seseorang menyadari bahwa muatan pada kenyataannya tidak kembali ke titik awal, karena disipasi energi. Muatan hanya akan berakhir pada terminal negatif, bukan terminal positif. Ini berarti semua energi yang diberikan oleh beda potensial telah sepenuhnya dikonsumsi oleh resistensi yang pada gilirannya kehilangan energi sebagai disipasi panas.

http://en.wikipedia.org/wiki/Kirchoff%27s_circuit_laws

Baca Selengkapnya »»

Aplikasi - Robot Pencari Cahaya (Seri Robotika [II])

Pada aplikasi kali ini, dibuat robot yang bergerak menuju kepada cahaya yang paling terang yang mengenai permukaan rangka robot. Sensor yang digunakan untuk mengukur level kecerahan cahaya adalah LDR, light dependent resistor, yang terpasang di tiga titik rangka robot (lihat disain mekanik). Metode yang digunakan adalah membandingkan nilai tegangan keluaran dari rangkaian LDR yang adalah representasi dari level kecerahan cahaya, kemudian robot akan menuju ke titik sensor LDR yang menerima level kecerahan cahaya terbesar.

Modul-Modul Depok Instruments yang Mendukung:
Blok Diagram:


Disain Mekanik:

Cara Kerja Robot:
  1. Zona deteksi robot dibagi menjadi 4 bagian: sisi depan, sisi kanan, sisi belakang, dan sisi kiri.
  2. Tiap zona dibagi lagi menjadi 3 segmen pemantauan sesuai dengan jumlah sensor.
  3. Robot akan mencari cahaya sampai robot mencapai titik yang memiliki tingkat kecerahan yang lebih dari atau sama dengan batas kecerahan yang telah ditetapkan di program sebelumnya.
  4. Robot akan berhenti pula jika tidak mendapatkan perbedaan tingkat kecerahan cahaya di 4 zona deteksi di mana di tiap zona tingkat kecerahan berada di bawah batas gelap.
  5. Jika dari 3 segmen dalam satu zona deteksi memiliki kecerahan yang sama, maka robot akan bergerak ke arah depan, dengan skala prioritas; depan-kanan-kiri.
Flowchart:


Skrip Program:

1. BASCOM:
$regfile = “m8535.dat”
$crystal = 11059200
Config Adc = Single , Prescaler = Auto
Start Adc
Dim Adc_kanan As Word
Dim Adc_kiri As Word
Dim Adc_tengah As Word
Chanel_kanan Alias 0
Chanel_kiri Alias 1
Chanel_tengah Alias 2
Motor_kanan Alias Portc.0
Motor_kiri Alias Portc.1
Config Motor_kanan = Output
Config Motor_kiri = Output
Do
Adc_kanan = Getadc(chanel_kanan)
Adc_kiri = Getadc(chanel_kiri)
Adc_tengah = Getadc(chanel_tengah)
If Adc_tengah < Adc_kiri And Adc_tengah < Adc_kanan Then
‘maju 1 step
Motor_kanan = 1
Motor_kiri = 1
Waitms 2000
Elseif Adc_kanan < Adc_kiri And Adc_kanan < Adc_tengah Then
‘belok kanan 30 derajat
Motor_kiri = 1
Motor_kanan = 0
Waitms 500
Elseif Adc_kiri < Adc_kanan And Adc_kiri < Adc_tengah Then
‘belok kiri  30 derajat
Motor_kiri = 0
Motor_kanan = 1
Waitms 500
End If
Motor_kanan = 0
Motor_kiri = 0
Waitms 100
Loop
End

2. Code Vision AVR (C):
/*****************************************************
This program was produced by the
CodeWizardAVR V2.03.4 Standard
Automatic Program Generator
© Copyright 1998-2008 Pavel Haiduc, HP InfoTech s.r.l.
http://www.hpinfotech.com
Project :
Version :
Date    : 28/04/2011
Author  :
Company :
Comments:
Chip type           : ATmega8535
Program type        : Application
Clock frequency     : 11,059200 MHz
Memory model        : Small
External RAM size   : 0
Data Stack size     : 128
*****************************************************/
#include <mega8535.h>
#include <delay.h>
#define chanel_ldr_kanan 0
#define chanel_ldr_kiri 1
#define chanel_ldr_tengah 2
#define motor_kanan PORTC.0
#define motor_kiri PORTC.1
#define ddr_motor_kanan DDRC.0
#define ddr_motor_kiri DDRC.1
#define ADC_VREF_TYPE 0×00
// Read the AD conversion result
unsigned int read_adc(unsigned char adc_input)
{
ADMUX=adc_input | (ADC_VREF_TYPE & 0xff);
// Delay needed for the stabilization of the ADC input voltage
delay_us(10);
// Start the AD conversion
ADCSRA|=0×40;
// Wait for the AD conversion to complete
while ((ADCSRA & 0×10)==0);
ADCSRA|=0×10;
return ADCW;
}
// Declare your global variables here
void main(void)
{
unsigned int adc_kanan, adc_tengah, adc_kiri;
// Analog Comparator initialization
// Analog Comparator: Off
// Analog Comparator Input Capture by Timer/Counter 1: Off
ACSR=0×80;
SFIOR=0×00;
// ADC initialization
// ADC Clock frequency: 691,200 kHz
// ADC Voltage Reference: AREF pin
// ADC High Speed Mode: Off
// ADC Auto Trigger Source: None
ADMUX=ADC_VREF_TYPE & 0xff;
ADCSRA=0×84;
SFIOR&=0xEF;
ddr_motor_kanan=1;
ddr_motor_kiri=1;
while (1)
{
// Place your code here
adc_kanan=read_adc(chanel_ldr_kanan);
adc_kiri=read_adc(chanel_ldr_kiri);
adc_tengah=read_adc(chanel_ldr_tengah);
if (adc_tengah<adc_kiri && adc_tengah<adc_kanan){
//maju 1 step
motor_kanan=1;
motor_kiri=1;
delay_ms(2000);
}
else if (adc_kanan<adc_kiri && adc_kanan<adc_tengah){
//belok kanan 30 derajat
motor_kanan=0;
motor_kiri=1;
delay_ms(500);
}
else if(adc_kiri<adc_kanan && adc_kiri<adc_tengah){
//belok kiri 30 derajat
motor_kanan=1;
motor_kiri=0;
delay_ms(500);
}
motor_kanan=0;
motor_kiri=0;
};
}

Baca Selengkapnya »»

Berkenalan dengan Mikrokontroler

Asal-Usul Komputer
 

Perkembangan generasi komputer dari awal sampai dengan saat ini selalu ditandai dengan teknologi global yang saat itu menjadi landasan operasi kerja dari komputer. Sampai saat ini telah tercatat 5 generasi komputer:
1.Tabung Vakum
2.Transistor
3.Integrated Circuits (IC)
4.Mikroprosesor
5.Artificial Intelegent (AI)

Mikroprosesor VS Mikrokontroler

Seperti sudah dijelaskan sekilas di bab sebelumnya, bahwa Mikroprosesor adalah termasuk ke dalam generasi baru (ke-4) dari perkembangan komputer secara keseluruhan. Lalu bagaimana dengan Mikrokontroler? Secara sederhana, kita dapat katakan bahwa Mikrokontroler adalah saudara dari Mikroprosesor. Seperti juga Mikroprosesor, Mikrokontroler dapat melakukan pengolahan data, walaupun dalam taraf yang lebih sederhana. Lalu apakah perbedaan mendasar antara Mikroprosesor dan Mikrokontroler selain tingkat kerumitan dari data yang diolahnya? Sebuah pengendali, baik Mikroprosesor maupun Mikrokontroler, memerlukan ROM (Read Only Memory) untuk menyimpan program yang akan dieksekusinya dan RAM (Random Access Memory) untuk menyimpan sementara data-data yang diolahnya. Tetapi perbedaannya, sebuah Mikroprosesor tidak memiliki fasilitas ROM dan RAM dalam chip-nya, sehingga memerlukan komponen-komponen lain yang bertugas sebagai ROM dan RAM untuk dapat bekerja, sedangkan sebuah Mikrokontroler memiliki fasilitas-fasilitas tersebut dalam chip-nya, sehingga dapat bekerja secara single-chip. Jadi untuk mengendalikan sebuah sistem yang tingkat kerumitannya tidak terlalu tinggi, sangatlah cocok menggunakan Mikrokontroler sebagai pengendalinya.

Aplikasi dari Mikrokontroler

Sebuah Mikrokontroler biasa digunakan untuk sistem-sistem yang berorientasi pengendalian. Contohnya dalam dunia industri adalah pengendalian sistem pemanasan air. Mikrokontroler dapat digunakan pula untuk membangun sebuah smart-system seperti robot. Banyak aplikasi yang dapat dibangun berbasis Mikrokontroler ini dikarenakan bentuknya yang compaq dan kesederhanaannya untuk membangun suatu sistem berbasis Mikrokontroler.

Mikrokontroler “Idol

Sebuah Mikrokontroler yang ada di pasaran dibangun dari beberapa arsitektur dan oleh produsen yang berbeda-beda. Tetapi dari semua Mikrokontroler yang ada di pasaran, arsitektur yang tertua dan terpopuler untuk kebutuhan-kebutuhan sederhana adalah arsitektur 8051. Seluruh Mikrokontroler yang dibangun dari arsitektur 8051 ini dimasukkan ke dalam keluarga MCS-51 (Microcontroller System – 51). Arsitektur 8051 ini kali pertama dibuat oleh perusahaan INTEL, namun kemudian arsitektur ini diproduksi oleh beberapa produsen Mikrokontroler yang berbeda-beda dan salah satu yang terpopuler dan menjadi “idol” para pengguna Mikrokontroler yang diproduksi oleh ATMEL, yaitu AT89S51.

Baca Selengkapnya »»

SEJARAH SINGKAT PROGRAM STUDI

Program Studi Diploma-3 Fisika Instrumentasi Elektronika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, FMIPA USU (FIN) mempunyai tanggung jawab moral untuk mempersiapkan lulusannya dengan sebaik – baiknya. Hal ini sangat perlu dilakukan seiring dengan tingkat persaingan yang semakin ketat (kompetitif) dalam merebut pasar kerja domestik maupun internasional. Disamping itu, FIN ingin menjadi sebuah institusi pendidikan yang mapan sehingga mampu memainkan peran dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pendirian Program Diploma FIN tidak terlepas dari sejarah berdirinya Departemen Fisika FMIPA USU Medan dimana kronologis singkatnya sebagai berikut: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Syarif Thayeb, lewat suratnya bernomor 9683/Sekret/BUP/1965 tanggal 30 Nopember 1965, meresmikan pendirian Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) USU yang terdiri dari empat program studi: Matematika, Fisika, Kimia, dan Farmasi. Sebelumnya pada tanggal 25 Agustus 1965 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I telah menyetujui pimpinan FIPIA USU sebagai berikut:

Dekan                               : A.T.Barus, M.Sc. (Fisika)
Pembantu Dekan I             : Drs. P. Siagian (Matematika)
Pembantu Dekan II            : Drs. Dj. Pinem (Matematika)
Pembantu Dekan III           : Drs. R.A. Soekemi Apt. (Farmasi)

Pada tanggal 7 September 1982 nama FIPIA USU diganti dengan FMIPA, singkatan dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pada tahun 1985, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi melalui suratnya No. 488/PTDT/Sk/I-85 menyetujui pembukaan Program Diploma 3 Kependidikan dengan 4 jalur kekhususan yaitu: Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga pengajar menengah atas di berbagai pelosok tanah air. Program Kependidikan tersebut berakhir tahun 1993 pada saat mana program Diploma 3 Statistik dan Komputer mulai dibuka. Selanjutnya pada tahun 1994 di FMIPA USU dibuka 4 Program Diploma 3 sekaligus yaitu: Fisika Instrumentasi,  Kimia Industri, Kimia Analist, dan Farmasi analist.

Program Diploma 3 Fisika Instrumentasi Elektronika telah terakreditasi dengan peringkat B sesuai keputusan BAN Perguruan Tinggi sebagai berikut:

AKREDITASI
KEPUTUSAN
BADAN AKREDITASI NASIONAL PERGURUAN TINGGI
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : 005/BAN-PT/Ak-V/Dipl-III/VI/2005

TENTANG
HASIL DAN PERANGKAT AKREDITASI
PROGRAM STUDI UNTUK
PROGRAM DIPLOMA (DIII)
DI PERGURUAN TINGGI

Peringkat B

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal, 14 Nopember 2005
Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi

Ketua
dto
Prof. dr. M. K. Tadjudin

Baca Selengkapnya »»

Sekilas Tentang Fisika Instrumentasi

Fisika D-III (Dahulu Program Studi Fisika Instrumentasi D-III)

Program Studi Fisika Instrumentasi dibuka pada tahun 1994. Program Studi Diploma III Fisika Instrumentasi bertujuan untuk menghasilkan ahli madya dalam bidang Fisika Instrumentasi yang siap kerja di bidang Instrumen Elektronika, Instrumen Terkomputerisasi. Instrumen Telekomunikasi. Instrumen Medis dan Intrumen yang digunakan di Laboratorium.

Program Studi Fisika Instrumentasi menghasilkan alumni pertama pada tanggal 4 dan 7 Agustus 1997 dengan menammatkan semua mahasiswa yang terdaftar. Sampai dengan wisuda terakhir 27Juli 2002, Fisika Instrumentasi FMIPA USU telah menamatkan sejumlah 222 alumni.

Alumni program studi tersebar di seluruh Indonesia. Mereka bekerja di berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta (dalam negeri, luar negeri atau perusahaan patungan).

Visi
Visi Program Studi D-3 Fisika FMIPA USU adalah :
Pada tahun 2020 Program Studi D-3 Fisika akan menjadi program studi yang unggul secara nasional dan menghasilkan tenaga professional dalam bidang instrumentasi laboratorium berbasis mikroprosesor dan industri otomasi yang mampu menganalisis perinsip kerja suatu instrument  sehingga jika diperlukan dapat menggunakan, merawat, memperbaiki atau memodifikasi/membuat alat yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu”.

Misi
Misi Program Studi D-3 Fisika FMIPA USU adalah :
  1. Melaksanakan pembelajaran yang berbasis mutu, profesionalisme dan luwes.
  2. Meningkatkan konstribusi pengetahuan instrumentasi melalui praktikum dan  kajian – kajian kelompok.
  3. Memberi pelayanan di bidang instrumentasi kepada disiplin ilmu lain dan masyarakat.
  4. Melaksanakan manajemen pendidikan yang berbasis mutu dengan memanfaatkan instrumentasi.
Tujuan Program Studi
Program studi D-3 Fisika yang dikelola Departemen Fisika FMIPA USU diarahkan untuk menghasilkan ahlimadya yang memiliki kemampuan profesional dalam :

  1. Merancang alat pengumpul data melalui percobaan atau survei untuk memperoleh informasi secara lebih efiesien.
  2. Memakai/menggunakan Instrumentasi berbasis mikroprosesor di    Laboratorium ataupun Industri
  3. Merawat  dan memperbaiki Instrumen berbasis mikroprosesor.
  4. Dasar-dasar Instrumentasi dan Elektronika yang memungkinkan lulusan  Diploma III  Instrumentasi ini dapat mengikuti perkembangan dan   kemajuan teknologi Instrumentasi
 Sasaran dan Strategi Pencapaian
Sejalan dengan Rencana Induk Pengembangan USU dan FMIPA, maka Program Studi D-3 Fisika Instrumentasi mempunyai sasaran untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan profesi di bidang Instrumentasi. Seterusnya Program Studi D-3 Fisika diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan tenaga trampil di bidang instrumen yang berbasis mikroprosesor/komputer khususnya di Sumatera Utara dan di Indonesia pada umumnya atau bahkan untuk mensuplai tenaga yang diperlukan di luar negeri.

Dalam sasaran tersebut, tersirat bahwa lulusan D-3 Fisika Instrumentasi yang dihasilkan harus menguasai prinsip kerja instrumentasi serta memiliki kepekaan dalam penerapan teknik instrumentasi secara benar dalam bidang ilmu lain, disertai pula kemampuan berkomunikasi secara tulisan maupun lisan. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan di D-3 Fisika Instrumentasi disusun untuk menghasilkan tenaga ahli yang selain memiliki pengetahuan yang memadai di bidang Instrumentasi (sesuai dengan jenjang pendidikannya), juga dibekali dengan pengetahuan komputasi maju dan prinsip-prinsip dasar ilmu lain dari berbagai bidang terapan yang ada di USU. Landasan pengetahuan Fisika Instrumen yang lebih kokoh sangat diperlukan bagi yang berminat mendalami aspek teoritis atau akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Dalam upaya mencapai sasaran diatas, maka Program Studi D-3 Fisika menyusun strategi pencapaian sasaran melalui 2 jalur pencapaian :
  1. Jalur kampus : peninjauan dan pengembangan kurikulum mengikuti perkembangan dan tuntutan pengguna lulusan dan masyarakat; Pengembangan Silabus, SAP, dan Bahan Ajar; Peningkatan monitoring perkuliahan, evaluasi internal, kualitas bimbingan tugas akhir, mekanisme ujian tugas akhir dan PKL; standarisasi penilaian perkuliahan, pengiriman dosen dan tenaga pendukung untuk studi lanjut dan atau pelatihan; peningkatan sarana dan prasarana ruang kuliah dan laboratorium; penyelenggaraan pelatihan dasar-dasar manajemen organisasi;  peningkatan kualitas penelitian, kualitas dan kuantitas kegiatan layanan, dan kualitas tulisan untuk jurnal terakreditasi; peninjauan dan pengembangan kurikulum mengikuti perkembangan dan tuntutan pengguna lulusan dan masyarakat; Pengembangan Silabus, SAP, dan Bahan Ajar; Peningkatan monitoring perkuliahan, evaluasi internal, kualitas bimbingan tugas akhir, mekanisme ujian tugas akhir dan PKL; standarisasi penilaian perkuliahan, pengiriman dosen dan tenaga pendukung untuk studi lanjut dan atau pelatihan; peningkatan sarana dan prasarana ruang kuliah dan laboratorium; penyelenggaraan pelatihan dasar-dasar manajemen organisasi;  peningkatan kualitas penelitian, kualitas dan kuantitas kegiatan layanan, dan kualitas tulisan untuk jurnal terakreditasi;
  2. Jalur luar kampus : Prodi D-3 Fisika terus menjalin kerjasama dengan pihak luar. Walaupun belum ada MOU, namun mahasiswa Prodi D-3 Fisika dapat melaksanakan  Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada instansi pemerintah/swasta.
Sosialisasi
Upaya penyebaran/sosialisasi visi, misi dan tujuan program studi serta pemahaman sivitas akademika (dosen dan mahasiswa) dan tenaga kependidikan dilakukan melalui:

  1. Melalui kegiatan rapat program studi
  2. Melalui kegiatan kemahasiswaan, kuliah umum, Seminar, workshop dan kegiatan perwalian mahasiswa.
  3. Memasang poster yang berisi Visi dan Misi prodi di tempat yang sering dipergunakan mahasiswa (strategis)
  4. Melalui web Program Studi D-3  Fisika
  5. Penyebaran brosur.
  6. Road show ke beberapa SMA, dalam bentuk seminar dan workshop instrumentasi elektronika.

Baca Selengkapnya »»

KURIKULUM D-3 FISIKA FMIPA USU

SEMESTER I 


No

Kode

Mata Kuliah

Kelompok

SKS
1.
MPK 111 Agama
MPK
2
2.
MPK 112 Bahasa Inggris
MPK
2
3.
MPK  113 Bahasa Indonesia
MPK
2
4.
EIN 111 Matematika Dasar I
MKK
3
5.
EIN 112 Fisika Dasar I
MKK
3
6.
EIN 113 Pemrograman I
MKK
3
7.
MPB 111 Pekerti
MPB
2
8.
PIN 111 Prak. Fisika Dasar I
MKK
1
9.
PIN 112 Prak.Pemrograman I
MKK
2


Total
20

SEMESTER II

No

Kode

Mata Kuliah

Kelompok

SKS
1.
MPK 121 PPKn
MPK
3
2.
EIN 121 Matematika Dasar II
MKK
3
3.
EIN 122 Fisika Dasar II
MKK
3
4.
EIN 123 Pemrograman II
MKK
2
5.
EIN 124 Elektronika I
MKK
3
6.
EIN 125 Kimia
MKK
2
7.
PIN  121 Prak. Pemrograman II
MKK
2
8.
PIN  122 Prak. Fisika Dasar II
MKK
1
9.
PIN  123 Prak. Elektronika I
MKK
2


Total
21

SEMESTER III

No

Kode
  
Mata Kuliah 

Kelompok

SKS
1.
EIN 131 Sensor I
MKK
2
2.
EIN 132 Menggambar Teknik
MKK
2
3.
EIN 133 Bahasa Assembly
MKK
2
4.
EIN 134 Elektronika II
MKK
2
5.
EIN 135 Sistim Digital
MKK
2
6.
EIN 136 Metrologi
MKK
2
7.
EIN 137 Elektronika Diskrit
MKK
2
8.
PIN 131 Prak. Bahasa Assembly
MKK
2
9.
PIN 132 Prak. Elektronika II
MKK
2
10.
PIN 133 Prak. Sistem Digital
MKK
1
11.
PIN 134 Prak. Sensor I
MKK
1
12.
PIN 135 Prak. Elektronika Diskrit
MKK
1


TOTAL
21

SEMESTER IV

No

Kode
  
Mata Kuliah 

Kelompok

SKS
1.
EIN 141 Mikroprosesor
MKK
3
2.
EIN 142 Rangkaian Listrik
MKK
3
3.
EIN 143 Jaringan Komputer
MKK
2
4.
MBB 141 Management Industri
MBB
2
5.
EIN 144 Sensor II
MKK
2
6.
EIN 145 Instrumentasi Elektronika
MKB
2
7.
PIN 141 Prak. Mikroprosesor
MKK
2
8.
PIN 141 Prak. Jaringan Komputer
MKK
2
9.
PIN 141 Prak. Sensor II
MKK
1
10
PIN 141 Prak. Rangkaian Listrik
MKK
1


TOTAL
20

SEMESTER V

No

Kode
  
Mata Kuliah 

Kelompok

SKS
1.
EIN 151 Interface
MKB
2
2.
MPK 151 Statistik
MPK
2
3.
EIN 152 PLC
MKB
2
4.
EIN 153 Intelijen Instrumen
MKB
2
5.
EIN 154 Digital Kontrol
MKB
2
6.
PIN 151 Prak. Interface
MKB
2
7.
PIN 152 Prak. PLC
MKB
1
8.
PIN 153 Prak. Intelijen Instrumen
MKB
2
9.
PIN 154 Prak. Digital Kontrol
MKB
1


Pilihan
MKB
4


TOTAL
20

MATA KULIAH PILIHAN SEMESTER GANJIL

No

Kode
  
Mata Kuliah 

Kelompok

SKS
1.
EIN 155 Instrumen Optik
MKB
2
2.
EIN 156 Instrumen Analitik
MKB
2
3.
EIN 157 Teknik Telekomunikasi
MKB
2


Total 
6

SEMESTER VI

No

Kode
  
Mata Kuliah 

Kelompok

SKS
1.
EIN 161 Praktek Kerja Lapangan (PKL)
MKK
2
2.
EIN 162 Praktek Proyek
MKK
3
3.
EIN 163 Tugas Akhir
MKK
4


Total 
9

Baca Selengkapnya »»