Medan, 05 Oktober 1988

Aku Mencintai Kalian Semua Karena Allah

..:: WELCOME TO MY BLOG ::..

Assalamu'alaikum ...!!!
Mudah-mudahan Blog yang sederhana ini berguna bagi kita semua,, InsyaAllah Barokah.


-=[ Dian Hapriyanto Nst ]=-


Home Base :
Makyung Cafe
Jl. Halat No. 44DE Medan (samping Indomaret)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Tampilkan postingan dengan label KISAH MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

::: "Jilbab Cokelat untuk Adikku..."

Pertengahan Oktober lalu, istriku bilang kepadaku, bahwa beliau terlambat haidh. Sedikit kaget dan tak percaya, karena memang anak kedua kami baru berumur 20 bulan, waktu itu. Setelah dicek, hasilnya positif. Itu berarti, kami harus menyiapkan segala sesuatunya, keluarga mungil ini akan bertambah satu penghuni, insya Allah. Kami yakin, semua terjadi sesuai dengan takdir kehendak-Nya.

Awalnya, kami akan merahasiakan berita gembira ini. Biasa, banyak orang terkadang merasa kaget dan tak begitu percaya, bahkan cenderung mencemooh, ketika seorang istri yang jelas-jelas bersuami, 'hamil lagi', hanya gara-gara pandangan sinis: 'banyak anak, akhirnya tak terurus'. Dan, sebagian mereka malah lebih menerima, ketika ada seorang gadis 'halim' di luar nikah, tak punya suami dan akhirnya dinikahkan paksa, lalu akan melahirkan dua bulan kemudian. Inilah kenyataan yang terjadi di masyarakat kita.

Sehingga, tak ada yang kami beritahu, kecuali satu, Abdurrahman, anak pertamaku. Istriku sering bilang padanya, "Mas Aman sudah besar, jadilah anak shalih. Insya Allah, Mas Aman akan punya adik lagi.."

"Mas Aman mau punya adik lagi, Bun?" tanyanya diulang-ulang..

"Iya..."

"Mas Aman ingin adik cantik, kayak Mbak Elga (teman mainnya), nanti nggak aku nakali. Mas Aman emoh Dik Ibrahim dan Dik Yusuf (sepupunya).." ini juga dia ulang-ulang...

"Berdoa pada Allah, biar nanti dikasih adik cantik, Dik Aisyah, insya Allah.." bujuk Ibundanya.

"Nanti adik, aku beliin jilbab cokelat sama Embah ya, Bun..."

"Iya..."

Tanpa pengetahuan kami, berita ini menyebar darinya, Mbah Ti, Mbah Kung dan semua tahu. Karena Abdurrahman (3,5 tahun) ternyata sekarang pintar bercerita, termasuk tentang kehamilan Ibundanya, dia ceritakan kepada semua orang. Bahkan, saya mendengar hal ini dari Ibu Gurunya. Berarti, dia telah bercerita pada semua...

Ya sudahlah...

Akhirnya, beberapa pekan yang lalu, setelah Ibrahim keluar dari rumah sakit...

"Yah, sekarang sering keluar flek. Apa mungkin terlalu capek, karena sering begadang kemarin?" keluh istriku.

"Berdoa saja, mudah-mudahan semua baik adanya. Serahkan pada Allah, Dia Maha Tahu yang terbaik buat hamba-Nya.."

Flek itu terus terjadi setiap hari. Alhamdulillah, istriku tetap bersabar dengan keadaannya itu dan yakin, bahwa semua yang telah Allah tetapkan baik adanya dengan tetap membawa dan mengkonsultasikannya dengan Bidan terdekat.

Setelah hampir dua pekan flek, hari Rabu yang lalu, keluar 'darah segar'. Kamipun bersegera periksa ke Rumah Sakit, sekalian USG. Harus menunggu lama, karena di rumah sakit tersebut, pelayanan konsultasi kehamilan dan USG baru buka pukul 20:00 WIB, padahal sebelum maghrib kami sudah berangkat. Tak apa...

"Harus diikhlashkan..." begitu kata Ibu Dokter, singkat, penuh makna..

Istriku berkaca-kaca dan menangis bening. "Ada apa, Dok..?"

"Janin Ibu sudah tidak berkembang sejak tiga minggu yang lalu. Seharusnya sekarang sudah 8 minggu. Tapi, hasil USG, kelihatannya janin baru 5 minggu. Mungkin karena bakteri, atau yang lain.. Kalau ingin tau apa penyebabnya, harus dilakukan tes laborat.."

"Ya sudah, Bu. Tak apa.."

Kami pulang. Dua pekan lagi kami akan kontrol dan memastikannya lagi, sekaligus mengangkatnya, jika memang telah tiada, insya Allah...

----

"Yah, Ayah sibuk tidak? Bisa antarkan aku periksa sekarang, mumpung longgar?" begitu beberapa SMS dari istriku yang baru sempat aku baca setelah selesai Shalat Jumat.

"Bisa, insya Allah. Nyamper ke kantor ya.. Kita bawa motor satu saja.."

"Ayah ke sini saja! Ini sudah keluar banyak darah. Baju sama jilbabnya kotor.."

Aku lihat istriku sudah tak berdaya di ruang kelas TK tempat dia mengajar, 'nglesot' dengan banyak darah di bagian belakangnya. Dan tak ada seorangpun yang tahu kejadian itu. Semua temannya telah pulang, hanya tinggal beberapa mbak-mbak yang ikut kajian rutin di kelas depan.

"Tadi keluar banyak darah dan ada kayak gumpalan-gumpalan gitu," katanya, tenang, tak ada rasa panik yang nampak.

"Ya sudah, ganti baju dulu, teris kita ke Rumah Sakit.."

----

"Ini sudah harus dikeluarkan, kalo siap sekarang, lebih baik. Tadi saya lihat sudah dekat sekali.." kata Ibu Dokter menjelaskan keadaan.

"Ya sudah, Bu, kami ikut saja..."

Jam 20:30 'kuret' dimulai.

"Bapak menunggu di luar, ya," kata perawatnya..

Jam sembilan, selesai, alhamdulillaah. Tapi, istriku tak kunjung siuman. Sampai jam sebelas malam aku berteman dengan alat ini (lihat gambar), sambil terus perhatikan keadaan istriku yang sesekali menangis dengan tak sadarkan diri. Entah apa yang terjadi dengannya di 'alam sana'.

Pagi harinya, Abdurrahman dan Ibrahim datang diantar Mbah. Gembira sekali dia. Dia menyangka adiknya lahir dengan selamat. Matanya mencari-cari, dimana gerangan 'adik baru'-nya. Hanya saja, dia tak bertanya.

Setelah Dhuhur, badannya panas sekali. Diapun pulas dalam pelukan Ibundanya. Sesekali terdengar igauan, "Adikku, mana adikku..?"

----

Aku buka pintu kamar rumah sakit itu, sepulang dari masjid, setelah shalat Ashar. Aku lihat Aman menangis dengan tangis kehilangan, istrikupun menangis tak kalah hebat, demikian pula Mbak Perawat yang coba menjelaskan sesuatu pada istriku, ikut berkaca-kaca. "Ada apa gerangan?" tanyaku dalam hati...

Lama tak ada jawaban, walaupun sudah berulang kali aku tanyakan. Baru setelah Mbak Perawat itu pergi, istriku bercerita, "Mas Aman nyari adik bayinya..." Dan, istrikupun menangis sejadinya. "Belum dapat kalimat yang pas buat menjelaskan padanya," lanjutnya..

"Mas Aman nggak mau pulang. Mas Aman mau pulangnya sama Ayah, sama Bunda sama adik bayi naik motor.." kata lirih anak pertamaku itu.

Waduh, jadi sedih aku...

Lalu, Mbah Ti-nya membuka pintu, datang bersama Ibrahim dari bermain. Dan, beliaulah yang menjelaskan pada anakku, hingga redalah tangisannya.

"Sudah ya, Aman berdoa pada Allah, minta adik lagi. Aman mau adik berapa?"

"Tiga..." jawabnya, sambil mengacungkan jari dan mengakhiri tangisannya..

Sampai pagi ini, badan Aman masih panas sekali. Mohon doa untuk kebaikan dan kesembuhannya dari temans dan sahabats semua..

Bukan takdir yang kami tangisi, bukan pula biaya yang mahal, hanya terkadang kita kesulitan untuk menjelaskan...

Istriku bilang, "Semuanya berjalan dengan baik, ketika kita telah menyerahkan urusannya pada Allah. Semua ini terjadi, saat semua tanggungan telah selesai. Tugas ujian dan pembagian raport di sekolah juga sudah beres. Semua berjalan menakjubkan. Itulah indahnya tawakal.."

"Kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya semata kami kembali... Ya Allah, berilah kami pahala dalam musibah yang telah menimpa kami dan berilah kami ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa... Aamiin..”

Baca Selengkapnya »»

..:: CINTA SUCI SEORANG PENDOSA ::..

Aku mungkin orang yang paling banyak dosanya di dunia ini. Semua dosa hampir sudah pernah aku coba. Dari minuman keras, ganja, dan lain sebagainya pernah kucoba.

Bahkan, beberapa orang mengenalku sebagai seorang preman. Setelah lulus SMA, aku tak melanjutkan kuliah, karena aku lebih senang kumpul dengan teman-temanku sesama pengangguran. orang tuaku bisa dikatakan kaya, tapi mereka tak mau peduli denganku, semuanya diselesaikan dengan uang. Parahnya, saat aku mabuk dan tak sadarkan diri banyak hal-hal negatif yang aku lakukan.

Dengan uang dan ketampanan yang aku punya, hampir semua tipe wanita sudah pernah kutaklukan. Namun, yang beberapa hari ini jadi perhatianku, aku ingin bisa menaklukan satu tipe wanita yang cukup sulit ditaklukan nampaknya, yaitu wanita berjilbab.

Akhirnya aku menemukan seorang wanita cantik berjilbab yang kujadikan target untuk mendapatkannya. Berbagai strategi kujalankan untuk mendapatkan seorang wanita cantik berbalut jilbab rapi di sebuah kampus. Karena aku tahu wanita seperti itu suka dengan lelaki yang suka mengaji dan berkumpul dengan orang-orang soleh, kuberanikan diri untuk pura-pura mengikuti kajian yang diadakan di kampus tersebut. Awalnya, fokusku bukan pada pengajiannya, namun pada cara beberapa lelaki di sekelilingku bersikap. Agar aku bisa meniru tingkah laku mereka agar hati wanita cantik berbalut hijab itu bisa kutaklukkan.

Namun entah mengapa, saat seorang ustadz mengajarkan tentang nikmtnya menjadi seorang muslim yang hidup tenang dunia akhirat, seperti ada setetes embun yang begitu menyejukkan hatiku yang selama ini kering. Seperti oase di tengah padang pasir. Pengajian perdana berlalu, entah mengapa ada kerinduan untuk mendengar kembali kajian selanjutnya. Jiwa ini seperti mendapat asupan setelah kelaparan yang berkepanjangan.

Kajian selanjutnya, kembali aku dapatkan kesejukan itu, hingga pertemuan-pertemuan selanjutnya. Akhirnya, akupun lupa dengan targetku untuk menaklukan wanita berjilbab panjang itu.

Akupun sedikit demi sedikit mulai berubah. Entah mengapa aku sudah malas ngobat, mabuk, dan kemaksiatan lainnya. Perlahan aku sudah jarang ditemui di tempat mangkalku dengan teman-teman lain sesama pemabuk. Aku justru ketagihan dengan sholat duha yang jadi amalan favoritku. Kadang aku berkata dalam hati, “Halo, kenapa aku jadi berubah gini? Mana aku yang dulu?”

Sampai suatu hari, seorang Ustadz bertanya, “Antum (Kamu) sudah siap nikah, ini kebetulan ada seorang akhwat yang sudah siap menikah. Antum kayaknya udah siap untuk nikah”. Otakku seperti mau pecah, hatiku seperti kena petir. Sambil setengah gagap akupun berkata, “Ust.. Ustadz, saya ini banyak dosa. Tapi saya memang ingin sekali memperbaiki diri. Mudah-mudahan saya bisa menjadi imam yang baik. Bismillah, kalau ustadz yang merekomendasikan, saya siap ustadz”.

Sekarang giliran Ustadznya yang kaget. “Bener siap?? Kapan kamu mau ta’aruf (Berkenalan) dengan akhwatnya?
Dengan tekad kuat, akupun menatap dalam-dalam mata Ustadz, “Ustadz, kalau memang memungkinkan, malam ini juga saya siap untuk melamar dan melangsungkan akad nikah. Saya gak mau berlama-lama. Kebetulan saya sudah punya tabungan yang cukup untuk mahar dan hidup bersama beberapa bulan kedepan”.
“B.. bener? Kamu nggak akan lihat dulu akhwatnya?” Tanya sang Ustadz. “Afwan (Maaf) Ustadz, dia wanita tulen kan?” Tanyaku.

“Ya iyalah..hehe. Masa banci” Canda Ustadz. “Saat masa kelam dulu, saya sudah tahu semua tipe wanita. Saya nggak mau saya menikah karena nafsu saya padanya. Saya ingin menikahi wanita yang siap menerima saya sebagai imamnya. Yang bersama saya mempeleajari dan mengamalkan ajaran Islam. Mohon do’anya Ustadz” Jawabku mantap.

Singkat cerita, malam itu juga. aku dibawa ke rumah orang tua akhwat yang akupun tak tahu wajah dan latar belakang dirinya. Pikir sederhanaku, ada seorang wanita muslimah yang mau menerima aku apa adanya saja sudah Alhamdulillah.

Saat Sang Ustadz berbincang-bincang dengan keluarga akhwat tersebut, pikiran saya melayang-layang. Ingin rasanya mencubit pipi sambil bilang, “Benarkah ini terjadi? Sebentar lagi saya akan menikah?”. Saat kedua orang tua wanita paham dengan tujuan kami kemari, mereka pun berkata, “Kalau kami sih nggak ada masalah, tapi ga tau anaknya mau atau nggak. Mikaila, kemari Nak!”. Tiba-tiba dibalik tirai rumah yang sederhana itu muncul seorang bidadari yang begitu cantik, memakai kerudung putih rapi dengan mata menunduk dan senyum yang menggoda. “Allah, ternyata dia, orang yang dulu aku kejar-kejar sampai aku bisa berubah seperti ini!”. Astagfirullah, segera kutundukkan kepala.

Orang tua akhwat itupun bertanya untuk kedua kalinya, “Nak, kamu sudah kenal dengan lelaki yang ingin melamarmu ini?”. “Mm.. Belum mah, tapi wajahnya pernah hadir dalam mimpi Mikaila beberapa hari ini” Jawabnya begitu merdu. “Waduh, belum kenal. Jadi gimana, kamu setuju menikah dengan Mas ini atau mau dipikir masak-masak dulu?” Tanya sang ayah.

Beberapa saat, keadaan begitu sepi, seakan malam jum’at kliwon di sebuah hutan. Hatiku pun bergejolak, aku memang berharap, tapi aku siap jika aku ditolak. Jika diterima aku akan sujud syukur, jika ditolak aku akan berkata, “AllahuAkbar!”

Tiba-tiba, sebuah suara lembut begitu menyejukkan hati, seperti pertama kali aku menikmati siraman hidayah mengalir di tubuhku, “InsyaAllah, dengan memohon petunjuk dan rahmat dari Allah, Mikaila siap membangun cinta karena Allah, berusaha menjadi istri solehah, setia menemani Mas dalam berjuang di jalan Allah. Bismillah, Mikaila siap diimami”.

Lantunan kata itu bukan hanya lembut, tapi membuat mataku meleleh. Teringat kembali masa-masa kelam yang kujalani selama ini. Akankah aku mengatakannya sekarang di depan semua orang? Ataukah hanya akan kuberitahu pada calon istriku? Atau selamanya akan kupendam, atau bahkan kulupakan. Beberap saat hatiku berkecamuk.

Kutersadar dari lamunan saat Ustadz berkata, “Alhamdulillah, kalau seperti itu, bagaimana kalau malam ini saja langsung akad nikah, biar cepat halal. InsyaAllah resepsi bisa menyusul”.

Singkat cerita, malam itu dengan pertimbangan banyak pihak akhirnya akupun berhasil meminang seorang bidadari cantik jelita, anugerah terindah dariNya.

Malam itu juga aku ajak Mikaila ke sebuah hotel yang cukup mewah. Setelah wudhu bersama, sholat 2 rakaat dan mencium keningnya, akupun memegang tangannya perlahan, sambil malu-malu menatap matanya yang indah itu, “Sayang, benarkah kau mau menerima diriku apa adanya?” Jawabku lirih. “InsyaAllah saya menerima Mas apa adanya”. Mataku mulai berkaca-kaca, “Tapi aku punya masa kelam yang…” Belum sempat aku melanjutkan, jari tangannya yang lentik menyentuh bibirku, “Sstt.. Mas, saat akad tadi terucap aku sudah pasrahkan semuanya pada Allah. Aku terima mas apa adanya, aku punya masa lalu, mas juga punya masa lalu, yang penting bukan masa lalu, tapi hari ini dan hari-hari selanjutnya yang akan kita bangun”.

Subhanallah, akupun memeluknya sambill air mataku meleleh. Begitu bahagia rasanya mempunyai istri solehah yang ikhlas menerimaku apa adanya. Malam itupun aku terkejut karena ternyata istriku penghafal quran, lebih dari 20 juz ia hafal beserta artinya. Maka nikmat Allah mana lagi yang hendak kau dustakan?

Malam itu, malam terindah yang pernah ada dalam hidupku. AllahuAkbar!

*Tulisan Setia Furqon Kholid*

Baca Selengkapnya »»

Dijuluki Monster karena Kanker, Ravi Superboy Tak Patah Semangat


Kanker ganas getah bening tak membuat Marshall Ravi Pratama atau lebih dikenal dengan Ravi `Superboy Indonesia` patah semangat. Ia malah bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya bisa seperti anak-anak yang lain.

Apalagi semasa sekolah Play Group dan TK Ravi jarang sekali bergaul dengan teman-temannya. Bahkan Ravi di sekolah sering dipanggil `monster` karena kanker yang dialaminya.

"Dia berambisi untuk membuktikan ke semua teman-temannya karena teman-temannya jarang memanggilnya Ravi. Dia dipanggil monster karena ada kanker (bejolan di lehernya)," kata Lydia Afrilliyanti, ibu  Ravi di kantor Redaksi Liputan6.com, Jakarta, ditulis Rabu (21/5/2014).

Ravi didiagnosa mengalami Limfoma Hodgkin stadium dua lanjut saat berusia 3 tahun. Gejala penyakit muncul berawal dari pilek dan batuk yang berkepanjangan sekitar 3 bulan.
Saat itu Ravi sudah diperiksa dokter, namun dokter tidak melakukan tindakan apa pun dan hanya memberi obat. Baru setelah enam bulan muncul benjolan di leher kanan sebesar biji kacang hijau. Benjolan terus membesar hingga sebesar biji kelengkeng.

Lydia dan suami sempat membawa Ravi ke pengobatan alternatif. Hasilnya, bukannya membaik malah sebaliknya. "Kita merasa tertipu oleh pengobat alternatif. Waktu itu kita memang menghindari operasi. Padahal dokter sudah menyarankan saya untuk melakukan biopsi dan operasi. Cuma saat itu kita menghindar karena banyaknya omongan bahwa operasi tidak menyelesaikan masalah dan membuat benjolan tumbuh terus. Jadi kami takut. Apalagi saat itu, kami sudah periksa ke beberapa rumah sakit dan tak ada hasilnya. Benjolan malah makin tumbuh sebesar telur angsa," kata Lydia.

Benjolan ada di beberapa tempat di leher. Tiga di sebelah kanan dan dua di kiri. Lydia kemudian mencari dokter lain yang menganjurkan untuk melakukan pemindaian agar bisa dilihat lebih detail. Hasilnya, di paru-paru Ravi terdapat sekitar 12 benjolan. Tapi, saat itu dokter belum bisa menyimpulkan jenis penyakit yang dialami Ravi.

"Jadi pusatnya di paru-paru. Karena tak bisa menampung lagi, benjolan naik hingga bawah telinga," kata Lydia.

Melihat hasil tersebut, dokter tetap menganjurkan agar dilakukan operasi untuk mengangkat dua benjolan di leher. Di situlah ditemukan bahwa benjolan di tubuh Ravi adalah bentuk kanker Limfoma Hodgkin dan sudah mencapai stadim 2 lanjut. Ravi juga harus segera menjalani kemoterapi. Saat itu, Lydia dan suami benar-benar terkejut dan patah semangat.

Untung kekuatan dan semangat itu muncul kekuatan muncul dari kalimat yang disampaikan Ravi.

"Dia selalu bilang sama aku `Memang sebenarnya Ravi sakit apa?` Terus aku bilang, kamu itu sakit kanker. Kanker itu penyakit berbahaya dan pembunuh manusia terbesar di dunia. Dia sempat menangis, sedih, dan murung," kata Lydia.

Tapi, kesedihan yang dirasakan Ravi tak berlarut panjang. Ia pernah mengatakan kalimat yang membuat sang ibu untuk bangkit. "Dia bilang. Mama muslim apa bukan, mama percaya nggak sama Allah? Kalau kata Allah Ravi belum pulang ke rumah ke Allah, Ravi nggak akan tinggalin mama. Karena di dalam perut mama belum ada pengganti Ravi, pokoknya mama tenang aja deh, Ravi udah ngomong sama Allah, Ravi akan jaga mama karena papa kerja. Ravi anak laki-laki dan tugas Ravi menggantikan papa kalau lagi kerja," kata Lydia meniru penuturan putra semata wayangnya itu.
"Biasanya mama kan ceria, punya teman, suka ngobrol. Mama nggak boleh malu bilang ke teman-teman kalau anak mama itu kena kanker. Kan penyakit Ravi datangnya dari Allah. Nanti Allah ambil lagi, mama jangan nangis terus. Mama harus berdoa buat Ravi."

Suatu kali Ravi pernah mengatakan kepada Lydia yang tak henti-hentinya menangis melihat penderitaan Ravi yang harus menahan sakit akibat suntikan demi suntikan yang harus dihunjamkan ke kulitnya 17 kali sehari. "Aku selalu menangis setiap penusukan itu gagal, tapi Ravi selalu mengingatkan ibunya "Ravi kuat, mama harus kuat. Ravi tahan sakit kok," katanya.

Baca Selengkapnya »»

Ravi `Superboy Indonesia` 3 Tahun Berjuang Lawan Kanker Ganas


Siapa yang menyangka bocah bertubuh padat berisi ini pernah terkena kanker ganas selama tiga tahun dan menjalani 80 kali kemoterapi. Namun, kegigihan dan semangatnya membuat bocah bernama Marshall Ravi Pratama (6) atau yang dikenal dengan Ravi `Superboy Indonesia` lepas dari penyakit berbahaya ini.

Hati Lydia Afrilliyanti, ibu dari Ravi hancur ketika mengetahui buah hatinya terkena kanker ganas limfoma Hodgkin stadium 2 lanjut saat usia 3 tahun.  Ia sampai mengurung diri selama satu tahun dan tak mau berinteraksi dengan siapa pun.

"Pada saat aku dengar dia kena kanker ganas dan stadiumnya sudah dekat, aku sempat drop dan mengurung diri di kamar kurang lebih satu tahun. Aku nggak mau berinteraksi dengan siapa pun karena masih nggak percaya. Sempat juga berniat mengakhiri hidup karena saat itu merasa Tuhan nggak adil banget," kata Lydia di Kantor Redaksi Liputan6.com, Jakarta, Selasa (20/5/2014).

Lydia menceritakan penyakit yang diderita anaknya berawal dari pilek dan batuk yang berkepanjangan selama kurang lebih tiga bulan. Awalnya, Lydia dan suaminya tak curiga apa pun karena dokter juga hanya memberi obat-obatan dan tidak melakukan rontgen.

Setelah kurang lebih enam bulan, Lydia merasakan ada benjolan di dalam leher kanan saat memandikan Ravi. Setelah dipetsa, dokter tidak menemukan hal aneh sehingga benjolan dibiarkan dan tidak diobati.

"Tapi benjolan itu membesar. Yang awalnya sebesar kacang hijau menjadi sebesar biji kelengkeng. Kami sempat ke pengobat alternatif. Sayang, bukannya membaik tapi malah sebaliknya makin memburuk. Bahasa kasarnya kita kena tipu," kata Lydia.

Lydia sebenarnya sudah disarankan dokter agar melakukan pemeriksaan biopsi untuk Ravi. Namun ia dan suaminya takut. Setelah beberapa lama, benjolan tersebut makin tumbuh sebesar telur angsa dan jumlahnya bertambah menjadi tiga buah di leher kanan dan dua di leher kiri. Rupanya menurut dokter itu bentuk kanker kelenjar getah bening.

Saat Ravi didiagnosa terkena kanker getah bening itu, berat badannya sempat mencapai 14 kilogram (kg). Menurut dokter, semua itu bermula dari lendir pilek dan batuk yang berkumpul dan dipicu oleh makanan seperti junk food.

Lendir yang harusnya dikeluarkan melalui muntah atau hidung ternyata gumpalan dari paru-paru. "Aku kan masih muda dan terbiasa menyajikan gorengan seperti nugget dan kentang goreng untuk Ravi. Nah, rupanya makanan seperti ini justru memicu." kata Lydia.

Lydia rupanya baru sadar bahwa sel kanker dengan mudah bisa tumbuh di tubuh manusia, tergantung gaya hidup dan perilaku kita.

Setelah berjuang selama kurang lebih tiga tahun dan menjalani operasi, Ravi dinyatakan bersih dari kanker pada September 2013. Tentu saat pengobatan, itu bukan momen yang menyenangkan bagi anak ceria ini. Bayangkan, dalam sehari ia bisa 17 kali disuntik dan menjalani 80 kemoterapi.

Untung, sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik berkat ketekunan dan kesabaran orangtua dan Ravi sendiri. Bahkan Ravi terlihat seperti tak pernah terkena kanker. Ia selalu semangat saat tampil di manapun.

"Dokter menekankan bahwa kanker bisa hadir kembali dalam tubuh kita. Dan itu tergantung perilaku kita, apakah bisa menjaga atau tidak. Makanan sampah atau junk food juga soft drink akan dengan mudah menumbuhkan kanker dalam tubuh kita. Karena itu, sebaiknya dihindari. Amegar terhindar dari kanker, yang utama yang harus dijaga adalah buatlah hati selalu senang. Karena bahagia bisa membebaskan kita dari penyakit apa pun," kata Lydia.

Baca Selengkapnya »»